Showing posts with label Facts about Bullying. Show all posts

19:31 1
Kasus kekerasan terhadap anak, justru sebagian besar terjadi di lembaga pendidikan, yang selama ini diharapkan bisa memanusiakan anak. Ada yang tak beres dalam dunia pendidikan di Indonesia, karena itu Kementerian Pendidikan Nasional diharapkan bisa mel akukan evaluasi menyeluruh, mencari akar persoalannya.

Ironisnya, kekerasan terhadap anak terjadi di lingkungan terdekat anak, yakni rumah tangga, sekolah.

Berkualitas atau tidaknya seseorang di masa dewasa sangat dipengaruhi oleh proses pengasuhan dan pendidikan yang diterima di masa kanak-kanaknya. Pendidikan kita yang sarat beban dengan kurikulum sebatas pengetahuan hafalan, menandakan betapa kelirunya kita memandang anak. Anak dipandang tidak sebagai manusia, tetapi sebagai barang milik.
Demikian antara lain benang merah yang terungkap pada Diskusi Kekerasan Terhadap Anak, yang digelar Centre for Dialogue and Coorperation among Civilisations (CDCC), Kamis (11/2/2010) di Jakarta. Arist Merdeka Sirait mengatakan, fakta dan data yang terlaporkan dari masyarakat kepada Komisi Nasional Perlindungan Anak sepanjang tahun 2009, semakin kompleks dan di luar akal sehat manusia. "Kondisi yang tidak bisa ditolerir dengan akal sehat manusia hamper terdapat di setiap bentuk pelanggaran terhadap anak, mulai dari bentuk kekerasan terhadap anak, anak putus sekolah, perdagangan anak, sampai anak korban perceraian," katanya.
Kasus kekerasan terhadap anak misalnya, sepanjang tahun 2009 Komnas Perlindungan Anak telah menerima pengaduan sebanyak 1.998 kasus. Angka ini meningkat jika dibandingkan dengan pengaduan kekerasan terhadap anak pada tahun 2008, yakni 1.736 kasus. "Ironisnya, kekerasan terhadap anak terjadi di lingkungan terdekat anak, yakni rumah tangga, sekolah, lembaga pendidikan dan lingkungan sosial anak. Sedangkan pelakunya adalah orang yang seyogianya melindungi anak," ungkap Arist.
Kenyataan yang sama juga dipaparkan Abdul Muti, yang dari hasil survei terhadap kasus kekerasan terhadap anak, menemukan sebagian besar terjadi di sekolah dan lingkungan pendidikan lainnnya. "Sangat ironistik, kasus kekerasan terhadap anak, justru sebagian besar terjadi di lembaga pendidikan, yang selama ini diharapkan bisa memanusiakan manusia. Anak dianggap sebagai makhluk yang lemah," katanya.
Maria Ulfah Anshor mengatakan, anak merupakan bagian terpenting dari seluruh proses pertumbuhan manusia, karena pasa masa anak-anaklah sesungguhnya karakter dasar seseorang dibentuk baik yang bersumber dari fungsi otak maupun emosionalnya.
"Berkualitas atau tidaknya seseorang di masa dewasa sangat dipengaruhi oleh proses pengasuhan dan pendidikan yang diterima di masa kanak-kanaknya," ujarnya.
Ubah paradigma
Arist Merdeka Sirait mengatakan, demi kepentingan terbaik anak perlu diambil langkah-langkah segera melalui komitmen negara, masyarakat dan pemerintah. Komnas PA mendesak setiap orang untuk seg era menghentikan kekerasan terhadap anak serta merubah paradigma pendisiplinan dengan kekerasan menjadi kasih sayang, komunikatif, dan dialogis.
"Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak segera menerbitkan Standar Pelayanan Minimal bagi perempuan dan anak korban kekerasan dalam bentuk peraturan pemerintah," jelasnya
Maria Ulfah menawarkan solusi melalui pendidikan anak dan pengasuhan anak yang berspektif gender. "Dalam melakukan pendidikan dan pengasuhan anak yang berspektif gender, dimensi lain yang juga sangat penting adalah memperhatikan hak-hak anak sesuai tahap tumbuh kembang anak," katanya.

Kamis, 11 Februari 2010 | 22:37 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com

04:36
JAKARTA -- Ibu korban kasus bullying di SMA 82, Marlin Anggraini (53) menyayangkan lambannya proses hukum yang dilakukan polisi karena pelaporan telah dilakukan sejak hari Selasa ke Polsek Taman Puring. Akan tetapi polisi baru datang pada hari Jumat (6/11). ''Saya merasa polisi lambat dalam menangani kasus ini. Mereka baru datang setelah salah satu wartawan yang datang mewawancarai Ade menilpun,'' tuturnya.


Sementara itu, korban Bullying di SMA 82, Ade Fauzan, menyatakan tak ingin kembali ke SMA 82 lagi. Hal ini ia ungkapkan kepada orangtua dan keluarganya. Selain itu Ade fauzan telah kehilangan ayahnya sejak kelas III SD.

Hal tersebut dinyatakan Ibu korban, Marlin Anggraini (53 tahun), kepada Republika, Jumat (6/11). Ia juga mengatakan sebagai orangtua ia takkan mengijinkan anaknya kembali lagi kesana. Sebenarnya ia tiap harinya datang untuk menjemput Ade, akan tetapi pada saat kejadian, Selasa (3/11), Ade tak kunjung kelihatan di sekolah. ''Setelah hampir satu setengah jam menunggu, saya memutuskan pulang, dirumahlah saya mendengar Ade masuk rumah sakit, '' ujarnya.

Setelah sampai dirumah sakit, ia hampir pingsan melihat ade penuh darah dan matanya biru bengkak. Ia menyatakan kejadian ini harus diproses secara hukum, dan ia pun menolak jika harus menyudahinya dengan perdamaian secara kekeluargaan.

Sebelumnya pihak sekolah telah datang dan meminta kasus ini di selesaikan secara baik-baik dengan berdamai, akan tetapi ia mengatakan menolak secara halus tawaran pihak sekolah. ''Pihak sekolah inginnya berdamai dan tidak melapor ke polisi atau mengekspos ke media, tetapi saya menjawab semua harus melalui proses hukum,'' ujarnya.

Ia mengatakan luka yang dialami Ade antara lain sobek di mulut, dari bibir hingga dibawah hidung dan bengkak di kepala. Akan tetapi bagi Ade dan dirinya yang lebih sakit adalah luka trauma akibat perlakuan senior tersebut. Ia selain melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian, juga telah melaporkan kasus ini Komnas Perlindungan Anak.

Ia mengatakan awalnya ia sengaja memasukkan Ade ke SMA 82, karena SMA ini merupakan sekolah percontohan anti Bullying dan telah memiliki sertifikat Sekolah itu juga telah mengantongi sertifikat ISO 9001:2000. ''Pihak sekolah telah berjanji dari awal bahwa sekolah SMA 82 anti bullying,'' ujarnya. Akan tetapi anehnya pihak sekolah seperti lepas tanggung jawab karena lebih memilih jalur damai.

SUMBER : Republika

18:17

Fakta




1 dari 6
Jumlah siswa dari grade 6 sampai 10 yang sering mengalami bullying

7 menit
Bullying terjadi di luar kelas.

25 menit
Bullying terjadi di ruang kelas.


Fakta : Tempat terjadinya Bullying

Ada klaim yang menyatakan bahwa bullying lebih sering terjadi pada saat berangkat ke sekolah. Kenyataanya, riset menunjukkan bahwa bullying lebih banyak terjadi dalam perjalanan menuju ke sekolah bahkan 2 sampai tiga kali lebih banyak ketimbang pada saat dalam perjalanan menuju ke sekolah.
Kira-kia 40 sampai 75 persen dari bullying terjadi pada saat istirahat,di koridor atau di lorong-lorong sekolah atau di tempat yang tridak kelihatan seperti di toilet.
Bullying juga terjadi di kelas bahkan pada saat berlangsungnya pelajaran.
Tidak diragukan lagi bahwa sekolah adalah tempat terjadinya bullying. Hal ini jelas menjadi tanggung jawab penyelenggara sekolah, kepala sekolah dan guru.

Fakta : Siapakah yang menjadi korban bullying?

Riset menunjukkan bahwa secara umum siswa yang berpotensi untuk menjadi korban bullying adalah

Passive atau submissive

Kebanyakan siswa dala kategotri ni tidak agresif atau dapat dikatakan kalem dan tidak secara aktif memprovokasi orang lain di sekitar mereka. Bagaimanapun, korban yang pasif tetap merasakan kegelisahan akibat dampak dari bullying ini.

Siswa ini awalnya memiliki kepribadian yang sensitif dan berhati-hati. Mereka, mungkin juga karena kelemahan fisik, tidak berani melawan. Siswa seperti ini akan mengalami penderitan yang panjang kemungkinan merasa tidaK nyaman, kegelisahan dan memiliki citra diri yang rendah.
Ciri-ciri siswa dalam kategori ini adlah sensitif, tidak PD, tidak suka berkelahi dan secara fisik lemah. Mereka tidak memiliki banyak teman.


Provocative

Dalam kategori ini hanya sekitar 10 sampai 20 persen dari korban bullying

Suatu kelas dengan korban bullying yang provokatif secara umum berbeda dengan kelas dengan korban yang pasif. Ciri-ciri mereka adalah mereka sendiri sering mencoba mem-bully siswa yang lebih lemah. Mereka cepat marah/emosi dan langsung membalas saat diganggu walaupun tidak berhasil. Mereka kasar, malas, tidak dewasa, sulit berkonsentrasi dan termasuk kategori siswa yang sulit. Sebagian besar mereka hiperaktif dan seringkali tidak disukai guru karena tingkah mereka yang menyebalkan.

Fakta: Siapakah Pelaku Bullying?

Anak-anak dan remaja/ pemuda adalah berpotensial menjadi pelaku bullying. Seorang pelaku bullying yang aktif memiliki beberapa ciri berikut ini.

Seringkali ada asumsi yang menyatakan bahwa pelaku bullying adalah orang yang gelisah dan citra dirinya rendah. Riset membuktikan bahwa pelaku bullying bukanlah memiliki citra diri yang rendah. Citra diri mereka justru rata-rata dan secara umum relatif positif.
Sebagian besar pelaku bullying populer, ada juga yang tidak. Pelaku bullying sering berada dalam kelompok dua atau tiga orang yang memberikan dukungan dan setring bergabiung ketika terjadinya bulying. Ciri pelaku bullying ini sering agresif terhadap orang dewasa bahkan terhadap orang tuanya dan guru. Mereka menguasai teman-temannya, menekan yang lainnya dan menunjukkan dirinya dengan kekuatan dan dengan ancaman. Mereka cepat marah, impulsif, sulit diatur, kasar dan hnay menunjukkan simpati yang sangat kecil kepada orang yang dibully. Mereka pandai beralasan untuk mencari jalan keluar dari situasi yang sulit. Ketika dipergoki, merka mengatakan hanya iseng atau bercanda.

Fakta : Ciri anak yang menjadi korban

Terjadi perubahan dalam diri anak tersebut. Muncul keluhan atau perubahan perilaku atau emosi anak akibat stres yang ia hadapi karena mengalami perilaku bullying (anak sebagai korban).

dirangkum dari berbagai sumber termasuk dari http://mentalhealth.samhsa.gov/
Powered by Blogger.